Nyeri sendi adalah salah satu keluhan yang paling sering dialami banyak orang, baik usia muda maupun lanjut. Kadang muncul cuma sebentar, kadang juga menetap dan bikin aktivitas jadi terganggu. Walaupun terlihat sepele, para pakar kesehatan mengingatkan bahwa nyeri sendi sering menjadi sinyal tubuh yang perlu di perhatikan. Bukan sekadar “kecapekan biasa”, nyeri pada sendi bisa punya penyebab yang lebih kompleks.
Dalam artikel ini, kita bakal membahas tujuh penyebab nyeri sendi yang paling umum menurut para ahli, lengkap dengan penjelasan yang mudah di pahami. Cocok buat kamu yang ingin lebih peduli sama kesehatan tubuh, khususnya bagian sendi yang sering bekerja sepanjang hari.
1. Osteoarthritis: Keausan Sendi yang Sering Dianggap Normal
Osteoarthritis adalah penyebab nyeri sendi yang paling banyak di temui, terutama pada usia 40 tahun ke atas. Ini terjadi karena tulang rawan (kartilago) yang seharusnya melindungi sendi mulai menipis dan aus. Akibatnya, gesekan antara tulang meningkat, dan muncullah rasa sakit, kaku, hingga pembengkakan.
Yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa osteoarthritis cuma dialami orang tua. Faktanya, gaya hidup dan pekerjaan yang menuntut banyak gerakan berulang juga membuat anak muda berisiko. Kalau kamu sering merasa sendi berbunyi “krek-krek” atau kaku saat bangun tidur, jangan anggap itu hal biasa ya!
2. Peradangan Akibat Arthritis Autoimun
Tidak semua nyeri sendi di sebabkan oleh keausan. Ada juga yang muncul akibat reaksi sistem imun tubuh, seperti pada rheumatoid arthritis. Kondisi ini membuat lapisan sendi mengalami peradangan yang bisa berlangsung kronis.
Biasanya nyeri terasa paling parah di pagi hari, di sertai kekakuan yang butuh beberapa menit hingga satu jam untuk hilang. Para pakar mengingatkan bahwa gejala seperti ini perlu di waspadai karena bila di biarkan, peradangan bisa merusak sendi secara permanen.
Hal yang bikin arthritis autoimun sering terlambat di deteksi adalah karena gejalanya datang dan pergi. Banyak orang menunda memeriksakan diri karena merasa nyerinya akan hilang sendiri. Padahal, semakin cepat di tangani, semakin besar kesempatan sendi tetap sehat.
Baca Juga:
Tips Merawat Sendi Tubuh Agar Kuat Menurut Dokter Spesialis Ortopedi
3. Aktivitas Berlebihan dan Cedera Mikro
Sering olahraga? Atau kerja dengan gerakan yang sama berulang-ulang? Menurut para pakar, aktivitas berlebihan bisa menyebabkan cedera mikro pada area sekitar sendi, seperti tendon, ligamen, dan otot. Cedera-cedera kecil ini lama-lama menimbulkan rasa nyeri dan radang.
Beberapa contoh aktivitas yang sering memicu nyeri sendi:
-
Lari jarak jauh tanpa pemanasan yang tepat
-
Angkat beban terlalu berat
-
Terlalu lama mengetik atau menggenggam mouse
-
Naik turun tangga terlalu sering
Walau kelihatannya sederhana, cedera mikro yang tidak di istirahatkan bisa berkembang menjadi masalah kronis. Jadi, tubuh tetap butuh waktu istirahat yang cukup untuk kembali pulih.
4. Gaya Hidup Sedentari (Kurang Gerak)
Kebiasaan duduk terlalu lama—misalnya saat bekerja di depan laptop atau menonton TV berjam-jam—bisa meningkatkan risiko nyeri sendi. Alasannya, sendi jadi jarang di gerakkan sehingga cairan pelumas alami di dalamnya berkurang.
Pakar kesehatan menyebut ini sebagai salah satu “penyakit masyarakat modern”. Aktivitas yang terlalu sedikit membuat otot sekitar sendi melemah, dan ketika di gunakan tiba-tiba, muncul rasa sakit.
Ironisnya, banyak orang mengira kurang gerak itu lebih aman untuk sendi. Padahal, justru gerakan ringan seperti stretching, berjalan, atau latihan low-impact sangat penting untuk menjaga kesehatan sendi.
5. Berat Badan Berlebih yang Membebani Sendi
Faktor ini termasuk salah satu yang paling besar pengaruhnya. Saat berat badan berlebih, sendi-sendi penopang tubuh—terutama lutut, pinggul, dan pergelangan kaki—akan menanggung beban ekstra. Para ahli mengungkapkan bahwa setiap kenaikan 1 kg berat badan dapat meningkatkan tekanan pada lutut hingga 4 kg.
Tak heran, orang dengan berat badan berlebih sering mengeluhkan nyeri ketika berjalan, naik-turun tangga, atau berdiri terlalu lama. Jika tidak di kontrol, tekanan berlebihan ini bisa mempercepat kerusakan tulang rawan.
Bukan berarti harus langsung turun banyak, kok. Bahkan penurunan berat badan sedikit demi sedikit saja sudah bisa mengurangi rasa nyeri.
6. Kekurangan Nutrisi Penting untuk Sendi
Pakar gizi menyebut beberapa nutrisi yang sangat penting untuk kesehatan sendi: vitamin D, kalsium, omega-3, kolagen, dan berbagai mineral seperti magnesium. Kekurangan salah satu dari nutrisi ini bisa membuat tulang dan sendi lebih rentan mengalami peradangan atau kelemahan struktural.
Beberapa tanda tidak langsung kekurangan nutrisi antara lain:
-
Nyeri sendi yang muncul lebih sering
-
Tubuh cepat lelah
-
Otot terasa lemah atau kaku
-
Tulang terasa rapuh
Sayangnya, banyak orang tidak sadar bahwa pola makan sehari-hari mereka kurang mendukung kesehatan sendi. Terlalu banyak makanan olahan, kurang konsumsi sayuran atau ikan berlemak, serta jarang terpapar sinar matahari adalah pemicu utamanya.
7. Stres dan Kurang Tidur
Siapa sangka stres juga bisa menyebabkan nyeri sendi? Para pakar kesehatan mengungkapkan bahwa stres meningkatkan hormon kortisol, yang bila berlebihan justru memicu peradangan di dalam tubuh. Akibatnya, sendi lebih mudah terasa nyeri dan kaku.
Ditambah lagi, kurang tidur membuat tubuh tidak punya cukup waktu untuk memperbaiki jaringan-jaringan yang rusak. Jadi kalau kamu sering begadang, bukan cuma energi yang terkuras, tapi kesehatan sendi juga bisa kena imbasnya.
Beberapa orang bahkan merasakan nyeri sendi mereka memburuk saat sedang menghadapi tekanan mental atau emosional. Kondisi ini sangat umum, dan sering kali terabaikan.
Walau nyeri sendi terlihat sederhana, ternyata penyebabnya bisa sangat beragam dan tidak selalu berkaitan dengan usia. Mengenali lebih awal faktor-faktor yang memicu rasa sakit dapat membantu kamu menjaga kualitas hidup, mengurangi risiko kerusakan sendi, dan tetap aktif tanpa gangguan.